Eye and Face Protection

Why Eye and Face Protection is Important (Mengapa Perlindungan Mata dan Wajah Merupakan Hal Penting)?

Thousands of people are blinded each year from work related eye injuries. Injuries that could have been prevented, if only people would have used eye or face protection. (Ribuan orang menjadi buta setiap tahun akibat cidera mata yang terjadi berhubungan dengan pekerjaan).

 

The Delicate Structure of the Eye (Struktur Halus pada Mata)

Your eyes are very delicate. You can think of them as the color television cameras for your brain. Like a camera, your eyes include (Mata anda sangat halus. Mata adalah ibarat sebagai kamera TV warna untuk otak. Seperti kamera, mata mempunyai:

  • A lens that focuses light (sebuah lensa yang mengatur focus cahaya);
  • An iris that controls the amount of light that enters the eye (sebuah selaput yang mengendalikan jumlah cahaya yang masuk ke mata);
  • Receptors that “pick up” the image of what you see, and (reseptor yang mengambil bayangan benda yang dilihat, dan);
  • An optic nerve that serves as “cable” to transmit information from the receptors in your eyes to your brain (sebuah saraf otptik yang berfungsi sebagai kabel utuk mengantar informasi dari reseptor di mata menuju ke otak).

Unlike a television camera is made of plastic and metal, your eyes is made of soft tissue and blood vessels. Damage your eyes, and you have big trouble. Trouble that is often permanent. (Tidak seperti kamera televisi yang terbuat dari plastik dan metal, mata terbuat dari jaringan lembut dan pembuluh darah. Mata rusak, maka berarti masalah besar. Masalah yang biasanya permanen). 

What Types of Accidents Cause Eye Injuries (Jenis Kecelakaan Apa yang Menyebabkan Cidera Mata)?

 The major types of accidents that cause blindness include (Jenis kecelakaan utama yang menyebabkan kebutaan termasuk):

  • Objects striking the eyes (Objek menusuk mata);
  • Contact with chemicals and other hazardous materials (kena zat kimia atau material bahaya lainnya);
  • Being struck by swinging objects such as chains and ropes; and (kena hamtam objek mengayun misal rantai dan tali, dan)
  • Viewing radiant energy sources such as welding operations or lasers (melihat sumber energi radian seperti las dan laser).

Potential Hazards

 

Dust, Powders, Fumes, and Mists (Debu, Bubuk, Asap, Uap)

Small particles of matter can enter your eyes and damage them. Operations such as grinding, chiseling, sanding, hammering, and spraying can create small airborne particles; particles that can injure your eyes. (Partikel-partikel kecil bisa masuk ke mata dan merusaknya. Pekerjaan seperti menggerinda, memahat, mengampelas, menempa, menyemprot bisa menyebabkan partikel kecil larut udara; partikel yang bisa menciderai mata).

Toxic Gases, Vapors, and Liquids (Gas, Uap, dan Cairan Racun)

Toxic chemicals in the form of gases, vapors, and liquids can damage your eyes. Always read the appropriate MSDS before working with any hazardous material. (Racun kimia dalam wujud gas, uap, dan cairan bisa merusak mata. Baca selalu MSDS, Material Safety Data Sheet, sebelum mulai bekerja dengan material berbahaya).

NOTE: Some manufacturing process produce hazardous gases, vapors and liquids. Always check with your supervisor or safety manager to learn the type of eye or face protection you will need to use in order to work safely. (CATATAN: Beberapa proses manufaktur menghasilkan gas, uap, dan cairan berbahaya. Cek selalu dengan supervisor atau safety manager untuk mempelajari jenis perlindungan mata atau wajah yang perlu anda gunakan untuk bekerja secara selamat).

 

Flying Objects or Particles (Partikel atau Objek Layang)

Operation such as grinding, chiseling, sanding, and hammering often create flying objects or particles that can damage your eyes.  (Pekerjaan seperti menggerinda, memahat, mengampelas, dan menempa sering menimbulkan partikel atau objek layang yang bisa merusak mata).

Large Objects (Objek Besar)

Large objects such as (Objek besar seperti):

  1. Swinging chains, cables and ropes (rantai, sling, dan tambang mengayun);’
  2. Tools that are thrown or fall (Perkakas yang dilemparkan atau jatuh);
  3. Any sharp objects such as knives, scissors, pencils, etc.; and (benda tajam seperti pisau, gunting, pensil, dll.; dan)
  4. Walking or falling into obstructions can damage your eyes or face (berjalan atau jatuh ke hambatan bisa merusak mata atau wajah).

Molten Metals (Metal Cair)

Operations which involve or produce molten metals, if splashed, splattered, or dripped into the eyes, cause severe burns and tissue damage. (Pekerjaan yang melibatkan atau menghasilkan metal cair, bila memercik, menyiprat, atau menetes ke dalam mata, menyebabkan luka bakar dan kerusakan jaringan serius).  

Electrical Hazards (Bahaya Listrik)

Any time you work around electricity, there is the potential for arcs and sparks to occur. Take time to talk with your supervisor or safety manager concerning the type of eye protection you should wear if you will be working around electrical hazards. (Setiap kali bekerja di sekitar listrik, ada potensi munculnya pancaran dan percikan. Luangkan waktu untuk bicara dengan supervisor atau safety manager mengenai jenis perlindungan mata yang harus digunakan jika bekerja di sekitar bahaya listrik).

Thermal and Radiation Hazards (Bahaya Suhu dan Radiasi)

Operation such as welding, metal cutting, and working around furnaces can expose your eyes to heat, glare, ultraviolet, and infrared radiation. Check with your supervisor or safety manager to learn the specific type of eye protection you will need to use during these types of operations. (Pekerjaan seperti welding, metal cutting, dan bekerja di sekitar tungku bakar bisa membuat mata terpapar radiasi panas, silau, ultraviolet, dan infra-merah. Cek kepada supervisor atau safety manager untuk mempelajari jenis pelindung mata yang spesifik yang perlu dipakai selama pekerjaan ini).

Lasers (Laser)

Laser beams present a new hazard in some workplaces. Because there are different types of lasers, check with your supervisor or safety manager to determine the type of eye protection you need to use while working with lasers. (Sinar laser membawa potensi bahaya baru di beberapa tempat kerja. Karena ada beberapa jenis laser, cek kepada supervisor atau safety manager untuk menentukan jenis perlindungan mata yang perlu digunakan ketika bekerja dengan laser).

Protective Measures (Tindakan Pencegahan)

 

Machine Guards (Garda Mesin)

Many types of machines such as lathes, grinders, and sanders are equipped with guards, shields and screens. Always make sure that guards, shields, and screens are in place and in good working order before using these types of machines. And, don’t forget to wear eye protection. (Berbagai jenis mesin seperti mesin bubut, grinda, dan ampelas dilengkapi dengan garda, perisai, dan tirai. Pastikan selalu garda, perisai, dan tirai terpasang dalam kondisi baik sebelum menggunakan mesin tersebut. Dan, jangan lupa memakai pelindung mata).

 

Work Area Barriers (Pembatas Area Kerja)

Operations such as sanding, grinding, welding, and lathe operations produce dust, vapors, and flying particles. To protect other workers, work area barriers such as movable screens and barriers should be set up to separate workers and bystanders from hazardous operations. (Pekerjaan seperti mengampelas, menggerinda, mengelas, dan pekerjaan bubut menghasilkan debu, uap, dan particle layang. Untuk melindungi para pekerja lain, pembatas area kerja seperti tirai dan pembatas ringan harus dipasang untuk memisahkan para pekerja dengan pengamat dari pekerjaan berbahaya).

Ventilation (Ventilasi)

Operation which use or produce vapors, gases, mists, dusts, powders, and other airborne particles should be ventilated. Ventilation, along with damping systems, can significantly reduce the amount of airborne particles that could be hazardous to your eyes. (Pekerjaan yang menggunakan atau menghasilkan uap, gas, kabut, bubuk, dan partikel larut udara lainnya harus diventilasi. Ventilasi, bersama dengan “damping system”, dapat mengurangi secara signifikan jumlah partikel larut udara yang bisa membahayakan mata).

Lighting (Penerangan)

Good lighting is important in work areas. Good lighting reduces eye strain and glare. It also promotes both safety and improved productivity. (Penerangan yang baik sangat penting di tempat kerja. Penerangan yang baik mengurangi mata tegang dan silau. Penerangan yang baik juga mempromosikan keselamatan sekaligus peningkatan produktifitas).

Sign and Warnings (Rambu and Peringatan)

Obstruction and protruding objects should be indentified and marked. Use caution when working around obstructions and protruding objects. (Hambatan dan benda-benda mencuat harus diidentifikasi dan diberi tanda. Pasang rambu Peringatan ketika bekerja di sekitar hambatan dan benda-benda mencuat).

Eyewash Stations (Tempat Cuci Mata Darurat)

Eyewash stations should be located within 100 feet of your work area. If you accidentally get something in your eyes, go directly to the eyewash station and flush your eyes with water for 15 minutes. Be sure to hold your eyes open with your finger and “look” directly into the water stream. DO NOT RUB YOUR EYES! Rubbing your eyes may scratch or embed particles into your eyes. Once you have flushed your eyes with water, seek medical attention immediately. (Tempat cuci mata darurat harus ditempatkan sejarak 100 feet (30 meter) dari tempat kerja. Bila ada yang masuk ke mata anda tanpa sengaja, segera ke tempat cuci mata darurat dan siram mata anda dengan air selama 15 menit. Pastikan buka mata anda dan tahan dengan jari dan lihat langsung kea rah aliran air. JANGAN MENGGOSOK MATA! Menggosok mata bisa membuat mata tergores atau partikel menancap ke    

CAUTION: Some chemicals are water reactive and become toxic when mixed with water. Talk with your supervisor or safety manager about the chemicals you will be using on your job. Be familiar with the MSDSs for all chemicals used in your job. (PERINGATAN: Beberapa zat kimia bersifat reaktif terhadap air dan menjadi racun ketika bercampur air. Tanyakan pada supervisor atau safety manager tentang zat kimia yang akan dipakai untuk bekerja. Kenali MSDS untuk zat kimia yang digunakan untuk bekerja).

Safe Work Practices (Pelaksanaan Kerja Selamat)

As you work (Saat bekerja):

  • Read and follow warnings and precautions that may be found on equipment and hazardous materials (baca dan ikuti peringatan dan pencegahan yang mungkin ditemukan pada peralatan, dan material berbahaya);
  • Do not throw tools or participate in horseplay (Jangan melemparkan perkakas atau berpartisipasi ;
  • Keep sharp or pointed objects away from your eyes; and (Jauhkan barang-barang tajam dari mata);
  • Follow your superior’s or safety manger’s suggestion and recommendations for working safely (Ikuti saran dan rekomendasi dari supervisor atau safety manager supaya bisa bekerja secara selamat).

Personal Protective Equipment (Alat Pelindung Diri)

 

Safety Glasses (Kacamata Keselamatan)

Safety glasses are perhaps the most widely used type of eye protection. While they may look similar to regular glasses, they are much stronger and more resistant to impact and heat than regular glasses. In addition, most safely glasses are equipped with side shields that give you protection from hazards that may not be directly in front of you. Both prescription and nonprescription safety glasses are available. In addition, a wide variety of lens coating are available for special work situations. Safety glasses should be Z-87 approved to meet OSHA regulations. (Kacamata keselamatan mungkin adalah jenis pelindung mata yang paling banyak digunakan. Walaupun terlihat mirip dengan kacamata biasa, kacamata keselamatan lebih kuat dan lebih tahan terhadap benturan dan suhu tinggi disbanding kacamata biasa. Di tambah lagi, kebanyakan kacamata keselamatan dilengkapi dengan perisai samping yang memberikan perlindungan terhadap bahaya yang tidak langsung dari depan. Kacamata keselamatan dengan resep ataupun tanpa resep kedua-duanya tersedia. Sebagai tambahan, untuk situasi-situasi kerja khusus, tersedia berbagai jenis pelapis lensa. Kacamata keselamatan harus memenuhi Z-87 agar sesuai dengan peraturan OSHA).    

Goggles

Goggles give you more protection than safety glasses because they fit closer to your face. Because goggles surround the eye area, they give you more protection in situation where you might encounter splashing liquids, fumes, vapors, powders, dusts, and mists. Different types of goggles are available. They must indicate that they are chemical splash goggles to be worn for that purpose. ( Google memberikan perlindungan lebih dibandingkan dengan kacamata karena goggle lebih pas menempel pada wajah. Karena goggle menutupi keliling area mata, ia memberikan perlindungan lebih baik pada saat terjadi cipratan cairan, uap, asap, bubuk, debu, dan kabut. Ada berbagai jenis goggle. Goggle harus berisi indikasi mampu menahan cipratan kimia bila ingin dipakai pada pekerjaan tersebut).

Face Shield

Face shield offer you full face protection and are often used around operation which expose you to molten metal, chemical splashes, or fling particles. Many face shields can be used while wearing a hard hat. (Face shield memberikan perlindungan seluruh wajah dan sering digunakan pada pekerjaan yang membuat anda terpapar metal cair, percikan kimia, atau partikel layang. Banyak jenis face shield yang bisa digunakan saat memakai helm).  

NOTE: You should always wear safety glasses or goggles when using a face shield for added protection. Face shield alone are not considered adequate eye protection. (CATATAN: Anda harus selalu menggunakan kacamata keselamatan atau goggle saat menggunakan face shield sebagai perlindungan tambahan. Hanya memakai face shield dianggao tidak cukup untuk perlindungan mata).

Welding Helmets (Helm Las)

Welding helmets provides both face and eye protection. Welding helmets use special absorptive lenses that filter the intense light and radiant energy that is produced during welding operations. As with face shields, safety glasses or goggles should be worn when using a welding helmet. (Helm las memberikan perlindungan pada mata dan wajah sekaligus. Helm las menggunakan lensa absortif khusus yang menyaring cahaya tajam dan energi radian yang dihasilkan selama pekerjaan las. Sebagaimana halnya face shield, kacamata keselamatan atau goggle harus dipakai selama menggunakan helm las).

Absorptive Lenses (Lensa Serap)

Though you may not be a welder, a wide variety of absorptive lenses are available for use in safety glasses and goggles. These absorptive lenses offer additional protection if you must work where there is bright light or glare. (Walaupun anda bukan welder, berbagai jenis lensa absorptif tersedia untuk digunakan pada kacamata keselamatan atau goggle. Lensa serap ini menawarkan perlindungan tambahan bila anda bekerja di tempat yang ada sinar terang dan silau).

Contact Lenses

If you wear contacts, keep the following safety tips in mind (Bila anda menggunakan lensa kontak, ingat tip-tip berikut):

  • You may not wear contacts while using a full face respirator (Anda tidak boleh menggunakan lensa kontak ketika menggunakan full face respirator);
  • Wear you contact with caution if you work in areas where you might be exposed to fumes, dusts, powders, vapors, chemical splashes, molten metal, or intense heat, light or glare (Pakai lensa kontak secara hati-hati bila bekerja di area di mana bisa terkena asap, debu, bubuk, uap, percikan kimia, metal cair, atau panas tinggi, sinar terang atau silau) .
  • If you get anything under your contacts, take time remove and clean them. Follow your eyes doctor’s instructions for cleaning and caring for your contacts (Bila ada sesuatu di bawah lensa kontak, luangkan waktu untuk membersihkannya. Ikuti instruksi dokter mata anda dalam membersihkan dan merawat lensa kontak).
  • Some chemical can react with contacts and cause  permanent injury (Beberapa zat kimia dapat bereaksi dengan lensa kontak dan menyebabkan cidera permanen).
  • It is wise to keep an extra pair of contacts or a pair of glasses handy in case you should loose or damage one of your contacts while you are working (Merupakan hal baik untuk membawa sepasang lensa kontak atau kaca mata cadangan yang akan berguna jika sewaktu waktu lensa kontak hilang atau rusak ketika bekerja).

Care of Eye Protection Equipment (Perawatan Alat Pelindung Mata)

  • Clean your eye protection equipment. You can usually use mild soap and water. You may also use special wipes that are designed for cleaning protective eye equipment. Never use abrasive soaps, rough paper, or cloth towels. These items will scratch and damage your equipment. (Bersihkan alat pelindung mata anda. Anda bisa memakai air dan sabun biasa. Anda juga boleh menggunakan lap khusus yang dirancang untuk membersihkan alat pelindung mata. Jangan menggunakan sabun kasar, kertas kasar, atau kain handuk. Barang-barang tersebut akan menggores dan merusak alat anda).
  • Always keep your eye protection equipment in good working condition. If it is damaged, have it repaired or replaced (Jaga alat pelindung mata anda selalu dalam kondisi baik. Bila rusak, segera perbaiki atau ganti).
  • Store your eye protection equipment in a sanitary, cool, dry area away from moisture (Simpan alat pelindung mata anda di tempat bersih, keringm dan bebas dari lembab).
  • Read the manufacturer’s directions and warnings before using any eye protection equipments (Baca petunjuk dan Peringatan dari manufaktur sebelum memakai alat pelindung mata).
  • If you have any question concerning your eye protection equipment, talk with your supervisor or safety manager (Bila ada pertanyaan berkenaan dengan alat pelindung mata anda, bicaralah dengan supervisor atau safetu manager).

 

 Vision Exam (Uji Penglihatan)

 Let’s face it. You only have two eyes, and they must last you a lifetime. (Mari hadapi kenyataan ini. Anda hanya punya dua mata yang digunakan untuk seumur hidup).

As you age, your eyes will change. The change can affect your safety at work and at home. So, it’s a good idea to take a little time each year for a vision exam. (Seiring bertambah umur, mata anda akan berubah. Perubahan ini bisa berakibat pada keselamatan anda di tempat kerja dan di rumah. Karena itu, merupakan ide yang baik untuk meluangkan waktu setiap tahun untuk menguji pengelihatan anda).

Source: http://www.free-training.com

Portable Fire Extinguisher Inspection

Inspeksi Alat Pemadam Api Ringan (Inspection of Portable Fire Extinguisher)

 

Merupakan kewajiban kontraktor untuk memastikan ketersediaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di area kerjanya. Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi dan memadamkan api apa bila muncul kebakaran ringan di area kerja. Kebakaran ringan semacam ini sering kali terjadi pada proyek-proyek konstruksi di mana banyak terdapat pekerjaan panas (hotwork) yang menggunakan api atau yang menghasilkan percikan api misal pekerjaan las dan penggerindaan. Karena itu maka APAR yang tersedia di area kerja harus senantiasa dalam kondisi baik dan siap pakai jika sewaktu waktu keadaan darurat semacam itu terjadi. (Contractors have to make sure adequate provision of Portable Fire Extinguisher (PFE) on their work areas. The purpose is to overcome and extinguish fire in case of small fire occurred on work area. Small fires are often occurred in construction projects which have lot of hot work activities involving open flames or producing sparks as welding and grinding works. Therefore, PFEs provided on work area should always be in good condition and ready to use in case such emergency situation happened).      

Kontraktor hendaknya menunjuk personil khusus untuk melakukan inspeksi APAR secara berkala. Biasanya untuk proyek konstruksi, inspeksi dilakukan satu bulan sekali misalnya di minggu pertama setiap bulannya. Tujuan inspeksi ini adalah untuk melihat kondisi APAR yang tersedia di area kerja apakah masih dalam kondisi baik dan layak pakai ataukan sudah dalam kondisi tidak layak pakai. Karena itu, maka personil yang melakukan inspeksi APAR harus kompeten, memiliki pengetahuan yang cukup tentang APAR dan cara inspeksinya. (Contractors must designate special personnel to do inspection of PFEs periodically. In construction projects, it is usual to conduct inspection of PFEs once in a month, for example every first week of the month. Inspection conducted is to see the update condition of PFEs on work area if they are still feasible or not to use. To cope with it, personnel who carry out inspection of PFEs must be competent, having adequate knowledge of PFEs and how to inspect them).     

Apa saja yang perlu diperiksa dan bagaimana melakukannya? Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan dalam pelaksanaan inspeksi APAR rutin bulanan (How to do it and what things needed to do it? Followings are few things can be done during conducting a routine monthly inspection of PFEs): 

Pemeriksaan Penempatan APAR (Inspection of PFEs Placement)

            Tempatkan APAR pada posisi yang mudah terlihat dan mudah dijangkau. Akses menuju APAR tidak boleh terhalangi oleh material atau peralatan apapun. Jika pandangan kearah APAR atau akses menuju APAR terhalangi material maka hal ini akan menyulitkan pada saat terjadi keadaan darurat dan personil yang hendak memadamkan api tidak bisa bertindak cepat akibat hambatan itu. Bila ada material atau peralatan yang menghalangi pandangan atau akses ke arah APAR, maka penghalang tersebut harus segera disingkarkan dan pastikan APAR mudah dilihat dan dijangkau. (PFEs shall be placed in position that can be easily seen and easy to reach. Access towards PFEs must be clear and not be obstructed by any materials or equipments. If the vision to PFEs and or access to PFEs are blocked, it will cause difficulties to the personnel to act quickly in case of emergency. When there is a presence of materials or equipments obstructing the access to the PFEs, remove the obstructions immediately).

            Penempatan APAR sejarak minimum 15 meter dari titik kegiatan. Khusus untuk pekerjaan panas APAR harus ditempatkan persis di area kerja. (PFEs to be placed in 15 meters minimum distance from the activity spot)

APAR yang ditempatkan disatu posisi dalam jangka waktu lama harus dilindungi agar tidak terpapar panas matahari. Pelindung dari sinar matahari ini bisa diabaikan bila penggunaan APAR hanya sebentar saja. (PFEs that placed in a location for long period of time must be protected from direct exposure of sun rays. This protection is not necessary if PFEs only use in short time). 

Begitu juga halnya APAR yang ditempatkan dalam jangka waktu lama jangan sampai menyentuh tanah atau lantai secara langsung. Hal ini akan cepat menyebabkan karat pada bagian bawah tabung APAR. Tempatkan pada posisi di atas tanah atau lantai sejarak 1,2 meter. (PFEs that stay in a location for long period of time must not in contact with ground or floor directly cause it will make the tubes rusty. Place them in position 1.2 meters above the ground)

Pemeriksaan Phisik Tabung APAR (Physical Inspection of PFE Tubes)

Pada inspeksi bulanan, kondisi phisik APAR diperiksa secara visual saja. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut (In monthly inspection, physical inspection of PFEs is only by visual. Items to be checked are as follows):

–       Kondisi tabung secara keseluruhan dalam keadaan baik, tidak berkarat, dan tidak ada kerusakan akibat benturan. Bila ada karat atau kerusakan yang diperkirakan mengurangi kekuatan tabung, maka tabung harus segera disingkirkan dari area kerja. (The whole tube must be in good condition, free from rust, free from defect of impact. If there is rust or defect that may reduce the strength of tube, the tube must be removed from work area immediately).

–       Pin harus ada terpasang baik dan belum pernah di lepas (Pin must be in place and never been released).

–       Handle dalam kondisi baik dan siap digunakan. Pastikan tidak ada hambatan apapun pada handel yang akan menghalangi pada saat diperlukan gerakan meremas handel (Handles must be in good condition and ready to use. Make sure that there is nothing beneath handles that may block handles when need to squeeze them).
–       Selang dalam keadaan baik tidak ada kerusakan atau kebocoran dan tidak tersumbat (Hose must be in good condition and free from damage or leakage and not clogged).

–       Bila perlu sempatkan membuka selang dan perhatikan apakah ada sisa-sisa chemical powder di sana. Bila ada ditemukan sisa sisa powder berarti APAR sudah pernah digunakan karena itu harus segera disingkirkan dari area kerja (It is necessary to take time to release the hose and check inside hose connection to see if there is chemical powder inside it. If find chemical powder there it means that the PFE has been used, so that the PFE need to be removed from work area).  

–       Jarum pada pressure gauge berada pada posisi hijau yang menunjukkan bahwa tekanan APAR penuh. Jika jarum menunjuk ke di bawah area hijau berarti tekanan sudah berkurang maka singkirkan APAR dari area kerja (Indicator inside pressure gauge must be in green area indicating that the pressure is full. If the indicator below the green area, it means that the pressure is less, so that the PFE need to be removed from work area).

Pemeriksaan Bubuk Kimia APAR (Inspection of Chemical Powder)

 

           Pemeriksaan bubuk kimia APAR tidak dilakukan secara visual. Melainkan dengan cara menggoyangkan tabung APAR dan membolak baliknya. Ini bertujuan untuk menjaga agar bubuk kima tidak membeku. Bila bubuk kimia beku maka APAR tidak bisa digunakan lagi. Pada saat membolak balik tabung dengarkan apakah seperti gerakan pasir mengalir di dalam tabung. Bila iya, berarti bubuk kimia tidak beku. Tetapi bila tidak ada suaranya atau bila ada suara seperti hantaman benda keras maka bubuk kimia dalam keadaan beku, APAR harus disingkirkan dari area kerja (Inspection of chemical powder of PHE cannot be conducted visually. Inspection is to be done by shaking the tube and turn the tube upside down for several times. This is meant to prevent the chemical powder from freezing. If the chemical powder is freezing, the PFE cannot be used anymore. During turning the tube upside down listen to inside the tube if there is sound of sand flowing. If yes, it means the chemical powder is not freezing. But if you did not hear anything or if you hear sound of hard impact, it means the chemical powder is freezing and the PFE need to be removed from work area).

 

Bila pada saat pemeriksaan dirasakan bahwa berat apar tidak normal maka sebaiknya dibuktikan dengan menimbang berat apar. Bila berat apar kurang berarti APAR sudah pernah digunakan dan segera singkirkan dari area kerja (In case of during inspection found that the weight of PFE is not normal, it should be followed by weigh scaling. If the weight is less, it means that the PFE has been used, and need to be removed from service). 

Tag Pemeriksaan (Inspection Tag)

 

           Apa bila pemeriksaan selesai dilakukan dan disimpulkan bahwa APAR masih baik dan layak digunakan maka kesimpulan tersebut dituliskan pada Inspection Tag yang digantungkan pada tabung. Isi kan juga tanggal pemeriksaan dan nama serta paraf personil yang memeriksa. Bila hasil pemeriksaan ternyata membuktikan bahwa apar tidak layak digunakan maka segera singkirkan dari area kerja dan ganti dengan APAR yang layak. Untuk memudahkan identifikasi APAR diberi nomor identitas dituliskan di tabung misal FE001, FE002 dan seterusnya. (When inspection has been carried out and PFE is considered feasible to use, write it down to the inspection tag attached to the tube. Fill also the date of inspection, name of inspector, and signature of inspector. On the other hands, when PFE is considered not feasible to use, remove it from service, and replace it with proper PFE. PFEs shall be subjected with numbering system for easy identification as FE001, FE002 and so on).

Hasil pemeriksaan keseluruhan APAR di area kerja dituangkan dalam lembaran laporan bulanan yang berisikan informasi identitas APAR, lokasi, dan kondisinya. Lembaran laporan bulanan disampaikan kepada manajemen sebagai media komunikasi dan pertanggung jawaban personil petugas pemeriksa APAR. (Inspection results to be reported on Portable Fire Extinguisher Monthly Report Sheet that resuming PFE identities, locations, and condition. Monthly report sheet must be submitted to management as a communication means and accountability of PFE inspector).  

Fall Protection System


1926.502(a)(1) Fall protection systems required by this part shall comply with the applicable provisions of this section. (Sistim proteksi jatuh – Fall protection system yang dibutuhkan pada bab ini harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada bagian ini).

1926.502(a)(2) Employers shall provide and install all fall protection systems required by this subpart for an employee, and shall comply with all other pertinent requirements of this subpart before that employee begins the work that necessitates the fall protection. (Perusahaan harus menyediakan dan memasang semua fall protection system untuk pekerja yang dibutuhkan oleh subbab ini, dan harus sesuai dengan semua persyaratan yang berkaitan dengan subbab ini sebelum pekerja memulai pekerjaan yang mewajibkan proteksi jatuh).   

What is Personal Fall Arrest Systems? (Apakah Sistim Penahan Jatuh ?)

A personal fall arrest system is one option of protection that OSHA requires for workers on construction sites who are exposed to vertical drops of 6 feet or more. (Sistim penahan jatuh adalah salah satu pilihan perlindungan yang disyaratkan OSHA untuk pekerja di area konstruksi yang mengalami jatuh vertikal dari ketinggian 1,8 meter atau lebih).

 

Using Fall Arrest Systems Safely (Memakai Fall Arrest System secara Selamat)

  • Ensure that personal fall arrest systems will, when stopping a fall (Pastikan bahwa sistim penahan jatuh, pada saat menahan jatuh, harus):
    • Limit maximum arresting force to 1,800 pounds. Be rigged such that an employee can neither free fall more than 6 feet nor contact any lower level. (Mempunyai batas maximum daya tangkap 900 kg. Terikat sedemikian rupa sehingga pekerja tidak jatuh lebih dari 1,8 meter atau tidak sampai menyentuh lantai di bawahnya).
    • Bring an employee to a complete stop and limit maximum deceleration distance to 3½ feet. (mampu menghentikan gerak jatuh pekerja dan membatasi perlambatan maksimum sejarak 1 m).
    • Have sufficient strength to withstand twice the potential impact energy of a worker free falling a distance of 6 feet, or the free fall distance permitted by the system, whichever is less. (mempunyai cukup kekuatan untuk menahan dua kali potential impact energy orang jatuh bebas sejarak 1.8m, atau jarak jatuh bebas yang diperbolehkan pada system, pilih yang lebih rendah).
  • Remove systems and components from service immediately if they have been subjected to fall impact, until inspected by a competent person and deemed undamaged and suitable for use. (Segera singkirkan system dan komponennya – jangan digunakan bila sudah pernah menahan jatuh, sampai ada inspeksi dari orang kompeten yang menyatakan system masih baik dan layak untuk digunakan). 
  • Promptly rescue employees in the event of a fall, or assure that they are able to rescue themselves. (Selamatkan pekerja secara tepat bila ada kejadian jatuh, atau yakin bahwa mereka bisa menyelamatkan diri sendiri).
  • Inspect systems before each use for wear, damage, and other deterioration, and remove defective components from service. (Sebelum digunakan inspeksi system terhadap pemakaian, kerusakan, dan hal buruk lainnya, serta singkirkan komponen yang rusak).
  • Do not attach fall arrest systems to guardrail systems or hoists. (Jangan kaitkan fall arrest system pada guardrail system atau hoist).

Rig fall arrest systems to allow movement of the worker only as far as the edge of the walking/working surface, when used at hoist areas. (Ikat fall arrest system sedemikian rupa sehingga mengizinkan pergerakan pekerja hanya sampai tepi platform kerja ketika digunakan di area hoist). 

This worker is protected by a properly constructed fall arrest system (Pekerja ini terlindungi oleh fall arrest system yang dibuat secara benar)

 

Body Harness (Body Harness)

 

 

 

 

 

 

Body harnesses are designed to minimize stress forces on an employee’s body in the event of a fall, while providing sufficient freedom of movement to allow work to be performed. Do not use body harnesses to hoist materials. (Body harness dirancang untuk meminimkan gaya tekan pada badan saat jatuh, juga dirancang memberikan kebebasan yang cukup untuk bergerak saat melaksanakan pekerjaan. Jangan menggunakan body harness untuk menarik material).

As of January 1, 1998, body belts are not acceptable as part of a personal fall arrest system, because they impose a danger of internal injuries when stopping a fall. (Sejak 1 January 1998, body belt tidak diterima sebagai bagian dari personal fall arrest system, karena body belt menimbulkan bahaya cidera internal pada saat menahan jatuh).

 

 

 

 

 

 

 

 

Webbing (Webbing)

 

 

 

 

 

Webbings are the ropes and straps used in lifelines, lanyards, and strength components of body harnesses. The webbing must be made from synthetic fibers. (Webbing adalah tali dan sabuk yang digunakan pada lifeline, lanyard, dan komponen pada body harness. Webbing harus terbuat dari fiber sintetik).

 

Vertical Lifeline/Lanyard (Lifeline Vertikal/Lanyard)  

 

 

 

 

 

Vertical lifelines or lanyards must have a minimum breaking strength of 5,000 pounds, and be protected against being cut or abraded. Each employee must be attached to a separate vertical lifeline, except during the construction of elevator shafts, where two employees may be attached to the same lifeline in the hoist-way, provided:

  • Both employees are working atop a false car that is equipped with guardrails.
  • The strength of the lifeline is 10,000 pounds (5,000 pounds per employee).
  • All other lifeline criteria have been met.

(Lifeline vertikal atau lanyard harus mempunyai breaking strength minimal 2500kg, dan terlindung dari sayatan atau abrasi. Setiap pekerja harus terkait pada lifeline vertikal yang terpisah, kecuali selama konstruksi shaft elevator, di mana dua pekerja boleh dikaitkan pada lifeline yang sama di jalur hoist. Perlu disiapkan:

  • Kedua pekerja bekerja di atas false-car yang dilengkapi dengan guardrail.
  • Kekuatan lifeline adalah 5000kg (2500kg per pekerja)
  • Semua kriteria lifeline sudah terpenuh).


 

 

 

 

 

 

 

Self-retracting vertical lifelines and lanyards that automatically limit free fall distance to 2 feet or less must be capable of sustaining a minimum tensile load of 3,000 pounds when in the fully extended position. If they do not automatically limit the free fall to 2 feet or less, ripstitch lanyards, and tearing and deforming lanyards, must be capable of sustaining a minimum tensile load of 5,000 pounds when in the fully extended position. (Self-retracting vertical lifelines and lanyards {atau dikenal dengan yoyo lifeline} yang membatasi jatuh bebas sejarak 60 cm atau bahkan kurang dari 60 cm harus mampu menahan gaya tarik minimal 1500 kg pada kondisi lifeline terljulur penuh. Bila yoyo tersebut tidak membatasi jatuh bebas sampai 60 cm, jahitan lanyard lepas, lanyard robek dan berubah bentuk, harus mampu menahan gaya tarik minimal 2500 kg ketika pada posisi terjulur penuh).  

 

Anchorages (Penambat)

 

 

 

 

 

Anchorages used for attachment of personal fall arrest equipment must be independent of any anchorage being used to support or suspend platforms, and capable of supporting at least 5,000 pounds per employee attached, or must be designed and used as follows:

  •  As part of a complete personal fall arrest system which maintains a safety factor of at least two.
  • Under the supervision of a qualified person.

(Penambat yang digunakan untuk mengaitkan personal fall arrest equipment harus terpisah dari penambat yang digunakan untuk penahan atau penggantung platform, dan harus mampu menahan setidaknya 2500 kg untuk masing-masing pekerja, atau harus didesain dan digunakan sebagai berikut):

  • Sebagai bagian dari personal fall arrest system yang lengkap dengan safety factor setidaknya dua.
  • Di bawah pengawasan orang berkompeten.

 

Horizontal Lifeline (Lifeline Horisontal)

 

 

 

 

 

 

 

 

Horizontal lifelines are to be designed, installed, and used under the supervision of a qualified person, and as part of a complete personal fall arrest system which maintains a safety factor of at least two. (Lifeline horizontal didesain, diinstall, dan digunakan di bawah pengawasan orang kompeten, dan merupakan bagian dari sebuah personal fall arrest system lengkap yang mempunyai safety factor dua).

On suspended scaffolds or similar working platforms with horizontal lifelines that may become vertical lifelines, the devices used to connect to a horizontal lifeline must be capable of locking in both directions on the lifeline. (Pada scaffold gantung atau platform kerja serupa dengan lifeline horizontal yang bisa menjadi lifeline vertikal, alat yang digunakan menyambung ke lifeline horizontal harus mampu mengunci di kedua arah pada lifeline).

 

Connectors (Penghubung)

Connectors, including D-rings and snaphooks, must be made from drop-forged, pressed or formed steel, or equivalent materials. They must have a corrosion-resistant finish, with smooth surfaces and edges to prevent damage to connecting parts of the system. (Penghubung, termasuk D-ring dan snaphook, harus terbuat dari baja tempa atau material sejenisnya. Material tersebut harus dilapisi anti karat, memiliki permukaan dan ujung halus untuk mencegah kerusakan pada bagian system penghubung).

 

 

 

 

 

D-Rings must have a minimum tensile strength of 5,000 pounds, and be proof-tested to a minimum tensile load of 3,600 pounds without cracking, breaking, or becoming permanently deformed. (D-ring harus mempunyai kekuatan tarik minimal 2500 kg, dan ada bukti tes tarik dengan gaya minimal 1800 kg tanpa ada retak, patah, atau berubah bentuk secara permanen).

 

 

 

 

 

Snaphooks must have a minimum tensile strength of 5,000 pounds, and be proof-tested to a minimum tensile load of 3,600 pounds without cracking, breaking, or becoming permanently deformed. They must also be locking-type, double-locking, designed and used to prevent the disengagement of the snaphook by the contact of the snaphook keeper with the connected member. (Snaphook harus memiliki kekuatan tarik minimal 2500 kg, dan ada bukti uji gaya tarik 1800 kg tanpa retak, patah, atau berubah bentuk secara permanen. Snaphook juga harus locking type, double locking, dirancang dan digunakan untuk mencegah snaphook lepas karena adanya kontak antara snaphook keeper dengan bagian penghubung).

Unless it is designed for the following connections, snaphooks must not be engaged:

  • Directly to webbing, rope, or wire.
  • To each other.
  • To a D-ring to which another snaphook or other connector is attached.
  • To a horizontal lifeline.
  • To any object which is incompatibly shaped in relation to the snaphook such that the connected object could depress the snaphook keeper and release itself.

 

(Kecuali ada rancangan khusus, snaphook tidak boleh dihubungkan:

  • Langsung ke webbing, tali, atau sling
  • Ke snaphook yang lain
  • Ke D-ring yang sudah dihubungkan dengan snaphook yang lain
  • Ke lifeline horizontal
  • Ke objek yang bentuknya tidak sesuai untuk snaphook seperti objek yang bisa menekan snaphook dan bisa lepas sendiri). 

Source: http://www.osha.gov

Combustible Materials inside Machine

The picture below shows a well maintained air  compressor machine. We can see the inside is very clean. Operator of this machine cleans it everyday and every chance he has.  That is a good thing. (Gambar di bawah menunjukkan mesin kompresor udara yang terawat baik. Bisa kita lihat bagian dalam yang sangat bersih. Operator mesin ini membersihkannya setiap hari dan di setiap kesempatan yang ia punya. Itu merupakan hal yang baik.)

 

 

 

 

 

 

 

 

However, after he finished cleaning the machine he left the rags, cotton hand-gloves, and even his bag inside the machine. That is not a good thing to do. When the machine in operational, that area will become hot surface.   Presence of those things may become a hazard. Rags and cotton hand gloves are combustible. Hot surface can ignite the things and raise fire. (Akan tetapi, setelah selesai membersihkan mesin itu, dia meninggalkan lap, sarung tangan, bahkan tasnya di dalam mesin. Hal ini tidaklah baik untuk dilakukan. Ketika mesin beroperasi area tersebut akan menjadi permukaan panas. Lap dan sarung tangan kain mudah terbakar. Permukaan panas bisa menyulut benda-benda tersebut dan menimbulkan kebakaran.)

Therefore, it is important thing to check and to make sure that the machine is free from such things/materials. There should be no combustible things inside the machine. (Karena itu, penting untuk memeriksa dan memastikan bahwa mesin bebas dari benda dan meterial semacam itu. Tidak boleh ada benda mudah terbakar di dalam mesin.)

SELF-MOTIVATION

YOU ARE THE ONE

The question that arises is, “who motivates you?” Is it a person, is it peer group, is it incentives, or is it the environment? The contention of this chapter is that no matter what, it is you who motivates you. Excuses, blame, and alibi will not negate this fact. Nobody can motivate you. You must assume the responsibility to motivate yourself within the environment in which you find yourself. Some individuals are motivated by positive happenings within their life, while others succeed through adversity.

PEOPLE ARE AMAZING

One person who has motivated by his failures was Dan Jensen, Olympic speed skater. After failing to receive the gold medal in three previous Olympic Games, he went on to become a gold medal winner in the 1994 Winter Olympic Games. He had been expected to win the gold medal in previous Olympic Games, but through disastrous fall or unexpected losses, he was unable to accomplish that goal. But through this trials and failures, he was determined to make them lead him to success and his ultimate goal, a gold medal in the 1994 Winter Olympics’ 1,000-meter race. Failures can bring success!

On the other hand, what would have happened to Bonnie Blair if she had experienced the same fate as Dan Jensen? She culminated her career with five gold medals and had at least one medal in each of the previous three Olympics. No one can say or even guess the answer since she was motivated by her successes each time, instead of her failures. Mistakes can have either a positive or negative effect on the motivational environment, but end to be demotivational when punished rather than realizing that people who are doing something are going to make mistakes.

In a recent article, Bill Gates, chairman and CEO of Microsoft, stated, “Reacting calmly and constructively to a mistake is not the same as taking it lightly. Every employee must understand that management cares about mistakes and is on top of fixing problems. But setbacks are normal, especially among people and companies trying new things”.

Regardless of all the efforts made to assure that no accidents, injuries, or work-related illnesses occur, there will still be, at times, mistakes made and negative outcomes that occur. When this happens, this should be an incentive to try even harder; do not trash the safety and health effort over a setback.

LOSING THE SELF IN MOTIVATION

The basis for motivation seems to be in our perceptions of ourselves. These perceptions govern our behavior and support the concept of self-motivation. In order for people motivates themselves, there must be meaning in what they are doing. If they do not perceive that the goal set before them will satisfy their needs, they cannot possibly motivate themselves to accomplish it.

You must realize that no matter how unrealistic a perception may seem to us, it is reality to the person who holds it. No matter how we try to debunk a perception, there is always some degree of truth and reality within it and, therefore, it is very real to that person.

Individual will not be well motivated to work safely unless they have internalized the goals and expectation of the company. It is not enough for them to know that they will be fired for violation of a safety rule, they need to be motivated to perform their work safely even when there is no one watching them.

People must be inspired to be accountable to them-selves. If they put their goals and plans on paper, then they take possession of their own behavior to a greater extent. This motivates them to do something and gives them the time, direction, and a reason to find new or better ways to accomplish their goals and plans. As many experts will advise, you should put your goals or plans in writing. If you cannot write it down, then you probably will never achieve it.

(Charles D Reese and James Vernon Eidson, 2006)

GOALS SETTING

GOALS AND YOU (ANDA & TARGET)

Even though we may not put our goals in writing, it would be safe to say that we do few things in life that are not facilitated by goals and goal-setting process. Most people set goals in order to accomplish something: to get more money, to get recognition, etc. This is the reason there are so many accomplishments in this world; attaining those goals, and then moving on and setting new ones.

(Walaupun kita tidak menuangkan “target” ke dalam tulisan, tetapi lebih aman kita katakan bahwa hanya sedikit hal yang kita lakukan di dalam kehidupan ini  yang tidak difasilitasi “target” dan “proses pencapaiannya”. Kebanyakan orang menetapkan “target” dalam upaya pencapaian sesuatu: misal untuk mendapatkan uang lebih, untuk mendapatkan pengakuan, dll.  Inilah alasannya mengapa ada begitu banyak prestasi di dunia ini. Orang-orang secara terus-menerus menetapkan “target” (secara sadar ataupun tidak), setelah menggapai sasaran tersebut kemudian melanjutkan dan menentukan target baru lagi).

One company set a goal of decreasing their reportable injuries by one-half; they had had 50 such accidents the previous year. In a 6-month period, the number of incidents decreased 75% and the only thing the company had done was set the goal, publicize it, and track and report the progress toward the goal. The company made no program changes.

(Sebuah perusahaan menetapkan target untuk mengurangi reportable injury menjadi setengahnya; di mana pada tahun sebelumnya perusahaan 50 reportable injury.   Dalam kurun waktu 6 bulan jumlah reportable injury berkurang 75% padahal yang telah dilakukan perusahaan hanyalah menentukan target, mempublikasikannya, mencatat dan melaporkan perkembangan “target” tersebut. Perusahaan tersebut tidak membuat perubahan program.

Setting goals is vital for your safety and health initiative. If you set goals for yourself and your company, you will be amazed; goal setting gets great results.

(Menentukan target merupakan hal vital bagi langkah awal anda dalam K3. Ketika anda menentukan target anda sendiri dan perusahaan, anda akan takjub melihat hasilnya; menentukan target membuahkan hasil luar biasa.)

RATIONABLE BEHIND GOALS (HAL MASUK AKAL DI BALIK TARGET)

If you and other are not to be motivated, then goals must not be attainable. A failure to utilize a goal approach will surely result in a failed motivational effort.

(Bila anda dan yang lainnya tidak memiliki motivasi, maka target tidak akan tercapai. Kegagalan memanfaatkan pendekatan ” target” dipastikan akan berakhir pada upaya motivasi yang gagal).

Take, for example, the story about the Miami Dolphins and their bid to get the Super Bowl. As the story goes, a reporter was talking to Nick Buoniconti shortly after the Dolphin’s loss in the Super Bowl. He asked, “What was your team’s goal?” and Nick answered, “To get the Super Bowl”. As he spoke Nick realized that they had achieved their goal but had set it a little short. It should have been to “Get to the Super Bowl and win”.

(Sebagai contoh, kisah tentang Miami Dolphins dan harapan mereka masuk ke Super Bowl. Dikisahkan,  seorang reporter mewawancarai Nick Buoniconti sesaat setelah Dolphins kalah di Super Bowl. Reporter menanyakan “Apakah target team anda?” dan Nick menjawab “Masuk ke Super Bowl”. Saat mengatakan hal itu Nick menyadari bahwa targetnya sudah tercapai dan sayangnya target yang ditentukan masih kurang. Target yang ditentukan seharusnya “Masuk Super Bowl dan Menang”.

It is not certain that this is a true story but what is vital in this example is the fact that it demonstrates the importance of setting goals in order to accomplish what you want. Be aware, though, that a times what you get may not be all that you want. Therefore, be very careful when setting your goals since you can set too high or too low an expectation for yourself.

(Tidak bisa dipastikan apakah kisah di atas adalah kisah nyata tetapi ada hal vital pada kisah ini bahwa kisah ini menunjukkan pentingnya menentukan target dalam usaha untuk mencapai apa yang anda inginkan.  Renungkan dan pikirkan apa yang anda dapatkan belum tentu sepertu apa yang anda inginkan. Karena itu berhati-hatilah ketika menetapkan target karena bisa saja anda menentukan target terlalu tinggi atau terlalu rendah).

GOALS AND THEIR MANY FORMS (TARGET DAN BENTUKNYA)

Some goals may be quickly attained, while others will take a period of time to reach. This is the reason that your safety and health goals should be a mixture of both types of goals.

(Beberapa target mudah dicapai, sementara yang lain membutuhkan kurun waktu tertetnu untuk dicapai.Hal ini menjadi alasan mengapa target K3 anda seharusnya merupakan perpaduan dari keduanya).  

Group can be motivated to obtain goals. For instance, a story told about a factory operation that made cutting machines. The plant manager walked through the shop during the latter part of the day shift and asked the crew how many machines they had finished that day. They told him eight. Without saying a word, he took a piece of chalk and made a large eight on the concrete floor and walked away. When the next crew started their shift, they asked about the eight on the floor and the day crew explained what had happened. When the day crew came to work the next day, the eight has been erased and a nine had been chalked in its place. This is a good example of goal setting and the effect of peer pressure, competition, recognition, and involvement. You can probably think of other motivational plans as well.

(Grup kerja bisa dimotivasi. Sebagai contoh, ada sebuah kisah tentang pabrik yang memproduksi mesin potong. Menjelang akhir shift siang, Plant Manager masuk ke workshop dan menanyakan kepada krew kerja berapa mesin yang mereka selesaikan pada hari itu. Mereka bilang “delapan”. Tanpa berkata apapun ia mengambil kapur kemudian menuliskan angka delapan yang besar di lantai dan kemudian berjalan keluar. Ketika krew shift berikutnya mulai kerja, mereka menanyakan masalah angka delapan tersebut, krew shift siang menceritakan semua yang terjadi. Ketika krew siang kembali keesokan harinya, angka dilantai sudah dihapus dan diganti dengan angka sembilan. Ini adalah contoh baik mengenai penetapan target dan efek dari adanya tekanan, persaingan, pengakuan, dan keterlibatan. Anda juga bisa memikirkan rencana motivasi yang lain.

Goal setting is important in all aspects of our life and includes areas we seldom consider as motivational. People who are committed to a cause are motivated. This zeal to a cause, which is in all actuality a goal, has been a strong motivator over the history of civilization. Few people will deny the power of a purpose or cause and the drive to attain it. It has been noted that few people fail if they are driven by a goal. Goal which enhance are usually

  1. Specific
  2. Difficult
  3. Challenging

(Menetapkan target adalah hal yang penting dalam seluruh aspek kehidupan kita, termasuk hal-hal yang jarang kita anggap perlu motivasi. Orang yang mempunyai motivasi berkomitmen terhadap tujuan. Semangat mencapai tujuan ini, yang pada kenyataannya adalah target, merupakan motivator terkuat dalam sejarah peradaban manusia. Beberapa orang akan menyangkal kekuatan “tujuan atau sebab” dah hal-hal yang menggerakkan orang untuk mencapainya. Ada catatan yang menyatakan beberapa orang gagal bila mereka digerakkan oleh target. Target yang meningkatkan biasanya:

1. Spesifik
2. Sulit
3. Menantang

 

This topic of goals is of great importance. It seems to have been the force behind most of the accomplishments we have seen in this world. I think Tom Lasorda, the Dodger’s Baseball Manager, said it best when he said, “Motivation is the ability to communicate to people goals and objectives and show them how to achieve them”.

(Topik mengenai target ini sangatlah penting. Tampaknya topik ini telah menjadi kekuatan di balik keberhasilan keberhasilan yang sudah kita saksikan di dunia ini. Saya kira Tom Lasorda, Manager Dodger’s Baseball, mengungkapkan hal ini dengan sangat baik ketika dia mengatakan “Motivasi adalah kemampuan berkomunikasi dengan orang lain tentang target dan tujuan dan menunjukkan bagaimana cara untuk mencapainya”). 

(Charles D Reese and James Vernon Eidson, 2006)

Discipline Policy

The company expects that all workers, including management, will adhere to the company’s safety and health rules as well as applicable state and federal regulation. Whenever a violation of safety rules occurs, the following enforcement policy will be implemented:

Perusahaan mengharapkan semua pekerja, termasuk manajemen,  mengikuti peraturan K3 perusahaan dan juga peraturan-peraturan pemerintah. Bila terjadi  pelanggaran terhadap aturan K3, maka kebijakan berikut harus diterapkan:

FIRST OFFENSE – Verbal warning and proper instruction pertaining to the specific safety violation. (A notation of the violation may be made and placed in the employee’s personnel file).

PELANGGARAN PERTAMA – Peringatan verbal dan instruksi yang benar berkaitan dengan pelanggaran K3 spesifik. (Sebuah catatan pelanggaran mungkin perlu dibuat dan ditempatkan pada berkas personil karyawan).  

 

 

 

 

 

 

 

 

SECOND OFFENSE – Written warning with a copy placed in the employee’s personnel file.

PELANGGARAN KEDUA – Peringatan tertulis dan tempatkan sebuah salinan di berkas personil karyawan.

 

 

 

 

 

 

 

 

THIRD OFFENSE – Dismissal from employement.*

PELANGGARAN KETIGA – Diberhentikan dari pekerjaan.

 

 

 

 

 

 

 

*The company reserves the right to terminate immediately any employees who flagrantly endanger themselves or others by their unsafe actions while on Name of Company jobsites.

Perusahaan berhak untuk memberhentikan karyawan yang sangat membahayakan dirinya atau orang lain melalui tindakan tidak selamat ketika berada di area kerja perusahaan.

(Charles D Reese and James Vernon Eidson, 2006)